Banyak ide-ide inspiratif untuk menulis yang melesat dan hilang tidak saya hiraukan, padahal itu adalah tindakan mubazir. Sebagai seorang penulis amatir melewatkan ide-ide liar untuk memulai menulis adalah tindakan bodoh, walaupun saya tahu itu. Tapi, sudahlah itu semua sudah terjadi dan sesuai dengan tulisan pertama tentang pecah telur yaitu tentang apa yang bisa saya mulai, maka saya memutuskan untuk bilang stop! khusus pada ide ini, yaitu inspirasi tulisan saya yang kedua, mudik dan kematian.
Kalau saya tidak salah, tradisi mudik mendekati hari raya idul fitri atau lebaran hanya terjadi di Indonesia saja. Setahun sekali orang berbondong-bondong rela mengantri tiket dan berdesakan di statiun atau terminal untuk menjejakkan kaki melepas rindu ke kampung halaman. Momen ini memang sangat berkesan, tapi saya tidak akan mengupas soal mudik sebagai tradisi, saya lebih tertarik untuk mendalami filosofinya yang kemudian saya hubungkan dengan konsepsi hidup yang berakhir pada kematian.
Suatu malam, tidak sengaja saya melihat tayangan in memorial ceramah KH.Zainuddin MZ (alm). Ketidaksengajaan itu ternyata berbuah manis karena dari konten ceramah itulah saya terinspirasi untuk memahami pulang kampung dan kematian. Saya tidak ingin mendramatisir soal kematian karena sejauh dari apa yang sudah kita ketahui bahwa kematian akan datang kapan dan dimana saja, semua itu rahasia Allah ta'ala. Kematian tidak memandang kita sebagai koruptor atau bukan, yang jelas bila sudah waktunya, maka itu takdir-Nya.
Banyak orang yang sebetulnya memiliki potensi untuk memahami konsep mudik menjadi bagian dari hidupnya. Hidup sama dengan merantau yang pasti membutuhkan pulang. Kata KH. Zainuddin MZ, pulang itu adalah sesuatu hal yang kita senangi, misalnya saja pulang kampung atau lebih trend dengan istilah mudik. Sama hal nya dengan mudik untuk pulang kampung, kita hidup juga membutuhkan pulang, sebut saja dengan kematian. Akan tetapi, soal apakah pulang itu menjadi moment yang menyenangkan atau tidak itu balik kepada kita, sudah siap pulang dan hal apa yang sudah kita siapkan?
Jika kita balik ke mudik sebagai tradisi, maka kita akan melihat orang-orang perantau dari jauh-jauh hari pasti menyiapkan barang bawaan mereka untuk ke kampung. Jenis dan bentuknya bervariasi, yang intinya cuma satu, bekal mudik untuk pulang. Sama hal nya dengan mudik, hidup juga perlu bekal untuk kematian kita.
Saya mengutip lagi dari ceramah KH. Zainuddin MZ, dalam hidup kita terkadang (baca: sering) melupakan status bahwa kita adalah perantau yang juga nanti akan pulang. Hidup ini sama dengan mudik dan sejujurnya fenomena mudik dalam arti sebenarnya mengajari kita untuk lebih paham bahwa kita adalah perantau mudik yang nanti pasti pulang.
Jika kita bisa semangat dan bersungguh-sungguh berikhtiar menjadi perantau mudik tradisi, sesungguhnya kita punya potensi untuk memaksimalkan mudik yang sebenarnya.
reperspektif tulisan ini adalah mudik bukan sekedar tradisi, namun mudik sebetulnya memiliki semangat untuk mengingatkan kembali tentang status kita sebagai perantau yang pasti mati yang juga perlu bekal.
